📰 Portal Berita Resmi PINBAS DIY × Sibermu Thursday, 25 June 2026
Fafirru ilallah: "Masjid Bukan Cuma Tempat Sujud, Tapi Juga Pusat Ketahanan Pangan!"
Berita Umum 📅 22 Mei 2026 ✍️ Admin Jumarodin 👁 8 tayangan

Fafirru ilallah: "Masjid Bukan Cuma Tempat Sujud, Tapi Juga Pusat Ketahanan Pangan!"

Fafirru ilallah—larilah kembali kepada Allah. Nah, lari ke Allah bagi kami di Takmir Jomblangan itu artinya konkrit: stop bergantung sama manusia, saatnya bangun ketahanan pangan dari bawah bersama jamaah masjid, tidak sendiri sendiri!"

Berikut adalah hasil ialog viral, tajam, dan menyentuh esensi muhasabah yang menggabungkan semangat spiritualitas dengan aksi nyata ketahanan pangan dan ekonomi jamaah.

"Masjid Bukan Cuma Tempat Sujud, Tapi Juga Pusat Ketahanan Pangan!"

Berikut ini hasil dialog antara:

  • Kak Juma YK: Wartawan Bisnis & Pemberdayaan (Kritis, solutif, bertenaga).

  • Pak Sunardi: Takmir Masjid An-Nur Jomblangan Banguntapan bantul (Tenang, visioner, berbasis aksi).

(SITUASI: Di teras Masjid An-Nur Jomblangan, Banguntapan, Bantul, setelah shalat jamaah. Kak Juma menghadap Pak Sunardi yang dibersamai oleh jamaah shalat).

Kak Juma YK: (Membuka dengan nada dinamis) "Teman-teman, kalau kita buka media sosial hari ini, isinya cuma dua: kalau enggak debat politik yang bikin pusing, ya berita rupiah melemah yang bikin dompet sumpek. Tapi siang ini, saya di Jomblangan, nemu oase. Di saat orang di atas sibuk debat, jamaah di bawah sibuk mandiri. Pak Sunardi, saya dengar Takmir An-Nur lagi gencar maksa banget, tanda kutip ya, jamaahnya agar punya usaha ya dan sehat mandiri juga ya. Kenapa Pak? Kok masjid ngurusin isi dompet dan isi piring jamaah juga?"

Pak Sunardi: (Tersenyum tenang, tatapannya mantap) "Gini Kak Juma... Politik yang bersih itu kita semua sudah tahu rumusnya. Tapi orang beriman itu bukan cuma pinter teori, tapi jadi tauladan kehidupan dalam bertaqwa saat suka dan duka. Di atas mau gonjang-ganjing kayak apa, perut jamaah enggak bisa nunggu pemilu selesai. Allah berfirman, Fafirru ilallah—larilah kembali kepada Allah. Nah, lari ke Allah bagi kami di Takmir Jomblangan itu artinya konkrit: stop bergantung sama manusia, saatnya bangun ketahanan pangan dari bawah bersama jamaah masjid, tidak sendiri sendiri!"

Kak Juma YK: (Mata berbinar, langsung memotong) "Tajam! Lari ke Allah tapi lewat jalur ekonomi jamaah. Gimana itu aplikasinya di lapangan, Pak? Kan biasanya masjid cuma ngurusin kotak infak sama pengajian?" Lalu infaq jamaah untuk apa?

Pak Sunardi: "Itu dia kekeliruan kita selama ini. Kotak infak muter, tapi jamaahnya jualan di luar enggak ada yang beli. Maka di An-Nur, kita balik rumusnya: Jamaah Punya Usaha, Ya! Jamaah Punya Sehat, Ya! Kalau di atas rupiah melemah karena kurang sungguh-sungguh cari solusi, maka kita yang di bawah perbanyak bela-beli produk tetangga jamaah sendiri dengan rupiah sebanyak-banyaknya. Dari infaq masjid yang kita wujudkan voucher dan sebagian untuk program pemberdayaan ekonomi jamaah yang didampingi oleh takmir masjid usahanya. Kita hidupkan prinsip: Nandur sing dimakan, mangan sing ditandur (Tanam yang dimakan, makan yang ditanam)."

Kak Juma YK: (Menunjuk ke arah pekarangan dan banner di sekitar masjid) "Berarti kalau jamaah butuh beras, pulsa listrik, data wifi, butuh sayur, buah, atau butuh jasa pertukangan... semuanya muter di antara jamaah sendiri, Pak?"

Pak Sunardi: "Betul! Kita sudah punya data semua potensi produk barang dan jasa dari jamaah yang ada di sekitar Jomblangan. Jamaah yang punya usaha kuliner, kita kuatkan. Yang butuh pengobatan, kita arahkan ke yang jelas: herbal, bekam, terapi totok punggung, jaga pola hidup sesuai sunnah. Jadi, fisik sehat, pangan aman. Ketahanan pangan itu jangan nunggu instruksi pusat, Kak Juma. Harus muncul di sekitar jamaah masjid, di mana saja, kapan saja!"

Kak Juma YK: (Menghadap Jamaah, nada suara agak berbisik tapi tajam) "Dengerin tuh jamaah! Kalo di atas penuh dusta, kita perbanyak di bawah yang jujur, dermawan dengan sesama jamaah. Kalo di atas korupsi, kita di bawah perbanyak dermawan dan transparan. Kalo di atas sibuk pro-AMIS atau pro-IRAN secara politik, kita di bawah yang penting pro-UMKM dan pro-Isi Piring Tetangga jamaah!" (Kembali ke Pak Sunardi) "Tapi Pak, apa enggak takut dibilang masjidnya terlalu komersial?"

Pak Sunardi: (Terkekeh sejenak, lalu serius) "Komersial itu kalau nyari untung buat pribadi. Kalau ini namanya daulat jamaah. Jamaah berdauat. Yang untung jamaah. Semua kembali ke jamaah. Daripada jamaah sumpek denger berita ekonomi lalu pelariannya curhat di WA atau FB bikin gaduh, mending tutup medsosnya, buka sajadah di masjid shalat jamaah, pengajian ekonomi,, lalu besoknya belanja ke warung tetangga sebelah atau gerakan ketahanan pangan jamaah. Itu baru namanya ibadah yang istiqamah." Ibadah ke Allah swt ya, ibadah sosial dengan sesama jamaah juga iya. 

Kak Juma YK: (Mengangguk mantap, menyimpulkan) "Luar biasa. Singkatnya begini teman-teman: Kalau hidup lagi sumpek, sistem lagi bobrok, kurang sehat, kurang ilmu, jangan lari ke pelarian yang salah. Lari pulang ke Allah lewat masjid, lalu kuatkan kaki-kaki ekonomi tetangga jamaah kita. Matur nuwun Pak Sunardi inspirasinya!"

Pak Sunardi: "Sama-sama Kak Juma. Mari kita tutup dengan dzikir, biar berkah: Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah."

Kak Juma YK: "Aamiin! Dari Jomblangan Banguntapan Bantul,  untuk Indonesia yang berdikari. Share link web ini kalau kalian setuju masjidmu harus jadi pusat ketahanan pangan!" dan bisa konfirmasi ke admin web ini info detailnya ke: 0821.3524.2080

(Dialog Berakhir dengan puas bersama jamaah Masjid An-Nur Jomblangan)

Chat WhatsApp