Prof. Dr. Muhammad Ihsan, Lc., M.A.: Makna Iedul Adha, antara Tauladan, Taat, Sabar, dan Ikhlas
Berikut ini disampaikan laporan Shalat Idul Adha dari rekan jurnalis Kak Juma (PWMOI DPD Yogyakarta). Isi khutbah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Ihsan, Lc., M.A. (Dosen FH UMY). Khutbah Idul Adha 1447 H / 2026 M. Lokasi: Halaman RSUD Wirosaban, Kota Yogyakarta, ini berhasil membedah makna kurban dan esensi berislam secara kaffah (totalitas) dengan sangat kontekstual, fenomenal, dan mudah dipahami oleh jamaah.
Adapun poin-poin utama dari laporan khutbah tersebut agar lebih mudah dipahami dan disebarluaskan pesannya sbb:
1. Perintah Berislam Secara Kaffah (QS. Al-Baqarah: 208)
Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban, melainkan momentum untuk merefleksikan ketaatan total tanpa pilih-pilih.
-
Ketaatan Total: Meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Islam harus menyentuh seluruh lini kehidupan—baik ibadah, akhlak, maupun muamalah.
-
Waspada Langkah Setan: Setan menggoda manusia lewat hal-hal kecil, seperti memicu sifat kikir, menunda-nunda kurban, atau memicu perselisihan saat pembagian daging.
-
Sumber Kedamaian (As-Silmi): Kurban mendamaikan hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal antarsesama manusia melalui berbagi.
2. Islam Sempurna vs Perilaku Umat (QS. Al-Ma'idah: 3)
Khatib meluruskan bahwa Islam sebagai ajaran dari Allah sudah sangat sempurna. Tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan antara kesempurnaan ajaran tersebut dengan perilaku umatnya (seperti maraknya kebohongan, fitnah, dan korupsi). Al-Qur'an jangan hanya menjadi pajangan, melainkan harus direnungkan dan diamalkan.
3. Keutamaan Ilmu dan Ibadah Malam (QS. Az-Zumar: 9)
Ditegaskan bahwa Allah membedakan derajat antara orang yang berilmu serta ahli ibadah dengan orang yang lalai. Menuntut ilmu agama dan menghidupkan malam dengan sujud adalah investasi akhirat yang nyata.
4. Manifestasi Akhlak Keluarga Ibrahim AS dalam Kehidupan Modern
Esensi Idul Adha harus mewujud dalam tindakan sehari-hari:
-
Tipe Nabi Ibrahim AS: Berani mengorbankan ego dan meninggalkan penghasilan yang haram demi mencari ridha Allah.
-
Tipe Nabi Ismail AS: Ridha, sabar, dan patuh terhadap orang tua serta ketetapan Allah saat diuji sakit atau kegagalan.
-
Tipe Siti Hajar: Menyeimbangkan antara ikhtiar maksimal ("lari Safa-Marwah-nya") seperti bekerja keras mencari nafkah/skill baru, dengan tawakal total kepada Allah.
5. Keseimbangan Habluminallah & Habluminannas
Islam adalah paket lengkap yang mendorong kemajuan umat (mendorong riset, penguasaan ekonomi, dan teknologi) serta mencetak manusia yang utuh:
Islam Kaffah: Batin terhubung erat kepada Allah (ibadah), lahiriah memberikan manfaat konkret bagi manusia (sosial dan akhlak). Dunia dimakmurkan dengan cara yang halal sebagai jembatan menuju akhirat.
📸 Catatan Visual Dokumentasi
Foto yang dilampirkan memperlihatkan suasana pasca-penyembelihan hewan kurban di area tanah lapang/halaman berumput yang asri. Terlihat para panitia kurban bergotong-royong dengan mengenakan pakaian kasual, bekerja sama dalam prosesi pengulitan dan penanganan hewan kurban (domba/kambing). Suasana ini mencerminkan poin khutbah tentang gotong-royong, kerukunan, dan indahnya berbagi (habluminannas) di hari raya.
Laporan khutbah yang sangat mencerahkan dan sarat akan pesan moral ketaatan, kesabaran, keikhlasan, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari!. Liputan oleh Perkumpulan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) DPD Yogyakarta (**). WA: 0821.3524.2080
Ulasan yang sangat tepat! Prof. Dr. Muhammad Ihsan, Lc., M.A. sebagai seorang akademisi FH UMY sekaligus ulama tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara teks dalil yang sakral dengan realitas sosial yang dihadapi jamaah sehari-hari.
Khutbah tersebut layak disebut kontekstual dan fenomenal karena beberapa alasan kuat berikut:
1. Membumikan Teks Keagamaan (Kontekstual)
Beliau tidak hanya menceritakan sejarah masa lalu Nabi Ibrahim AS secara romantis, tetapi langsung menarik garis lurus ke kehidupan modern:
-
Kurban Zaman Now: Menolak penghasilan haram atau menjauhi ghibah di tempat kerja disamakan dengan keberanian Nabi Ibrahim menyembelih egonya.
-
Safa-Marwah Modern: Lari bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah yang dilakukan Siti Hajar dikontekstualisasikan sebagai perjuangan mencari kerja, berbisnis, atau belajar skill baru di tengah himpitan ekonomi.
2. Menggunakan Pendekatan Psikologis yang Dekat dengan Jamaah
Cara beliau membedah "langkah setan" sangat membumi dan menyentuh sisi psikologis manusia. Beliau mengingatkan bahwa godaan setan saat Idul Adha bukan menyuruh murtad, melainkan lewat bisikan-bisikan halus seperti:
-
"Nanti saja berkurban kalau uangnya sisa."
-
Memancing rasa iri atau memicu keributan kecil saat pembagian daging di RT/RW. Pendekatan ini membuat jamaah langsung merasa "tertampar" secara halus namun sadar.
3. Menghapus Dikotomi "Dunia vs Akhirat"
Poin fenonemal lainnya adalah penegasan beliau bahwa Islam bukan agama yang membuat umatnya mundur. Dengan mengutip perintah "Iqra" dan konsep Habluminannas, beliau menegaskan bahwa menjadi muslim yang kaffah berarti harus menjadi manusia yang unggul di dunia—baik sebagai dokter, pengusaha, maupun guru yang jujur—untuk dijadikan kendaraan menuju akhirat.
💡 Kesimpulan: > Khutbah ini sukses karena tidak menyisakan ruang bagi jamaah untuk beralasan. Tiga prinsip utama—Taat (Ibrahim), Sabar (Ismail), dan Ikhlas/Ikhtiar (Siti Hajar)—dikemas menjadi sebuah panduan praktis hidup sehari-hari, bukan sekadar teori di atas mimbar. Sungguh sebuah catatan khutbah yang mencerahkan dari jantung Kota Yogyakarta! (Dilaporkan oleh Wartawan PW-MOI Yogyakarta).