Kultum 22: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati: Menjaga Keseimbangan UMKM dan Ibadah
Kultum 22: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati: Menjaga Keseimbangan UMKM dan Ibadah
Dunia di Tangan, Akhirat di Hati: Menjaga Keseimbangan UMKM dan Ibadah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bapak dan Ibu pelaku UMKM yang dimuliakan Allah,
Kesibukan mengelola usaha—mulai dari memantau produksi, melayani pelanggan, hingga menghitung omzet—adalah bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal. Dalam Islam, bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah yang bernilai jihad. Namun, ada satu jebakan yang sering kali halus namun nyata: terlalu sibuk menata dunia, hingga lupa mempersiapkan rumah di akhirat.
Sebuah nasihat bijak mengatakan, "Jadikanlah dunia di tanganmu, dan akhirat di hatimu." Apa maknanya bagi kita sebagai penggerak ekonomi masyarakat?
1. Dunia sebagai Alat, Bukan Tujuan
Saat kita memegang uang atau aset usaha di tangan, kita memilikinya untuk digunakan. Kita yang mengendalikannya. Namun, jika dunia sudah masuk ke dalam hati, maka dunialah yang mengendalikan kita. Akibatnya, ketika azan berkumandang, hati merasa berat untuk meninggalkan tumpukan barang dagangan atau pembukuan karena takut kehilangan keuntungan sesaat.
2. Panggilan Azan: "Break" Terbaik untuk Keberkahan
Dalam manajemen bisnis modern, kita mengenal istilah evaluasi. Azan adalah waktu evaluasi spiritual yang diberikan Allah lima kali sehari. Berhenti sejenak saat panggilan shalat tiba bukan berarti mengurangi produktivitas. Sebaliknya, itu adalah cara kita mengetuk pintu langit agar usaha yang kita jalankan diturunkan keberkahan.
Apa gunanya untung jutaan rupiah jika di dalamnya tidak ada ketenangan (sakinah) dan keberkahan dari Sang Pemilik Rezeki?
3. "Nandur" yang Paling Utama
Prinsip kita sering kali adalah nandur, ngolah, ngedol (menanam, mengolah, menjual). Dalam konteks iman, shalat adalah bentuk "menanam" investasi yang paling aman. Usaha UMKM bisa saja naik dan turun, pasar bisa berubah, namun investasi sujud kita kepada Allah adalah aset yang tidak akan pernah mengalami inflasi maupun kerugian.
Penutup
Mari kita tata kembali niat kita. Jadikan setiap produk yang kita hasilkan dan setiap transaksi yang kita lakukan sebagai wasilah (perantara) untuk semakin dekat kepada-Nya.
Jika azan terdengar, mari kita buktikan bahwa kita adalah pengusaha yang tangguh: tangguh mengelola dunia di tangan, namun tetap menjaga akhirat tetap bertahta di dalam hati. Semoga Allah melapangkan rezeki kita dan mengistiqamahkan langkah kita di jalan-Nya. (**)
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh