Rezeki yang Tertukar? Mustahil: Menghilangkan Rasa Iri Terhadap Kesuksesan Kompetitor
Rezeki yang Tertukar? Mustahil: Menghilangkan Rasa Iri Terhadap Kesuksesan Kompetitor
Rezeki yang Tertukar? Mustahil: Menghilangkan Rasa Iri Terhadap Kesuksesan Kompetitor
Oleh: Redaksi BUYK
Pernahkah Anda merasa sesak di dada saat melihat toko sebelah lebih ramai? Atau merasa gelisah ketika kompetitor meluncurkan produk yang lebih viral? Dalam dunia UMKM yang sangat dinamis, godaan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain seringkali memunculkan benih penyakit hati yang bernama Iri (Hasad).
Padahal, ada satu prinsip dasar yang harus dipegang erat oleh setiap pengusaha beriman: Konsep Rezeki yang Sudah Terukur.
Jaminan dari Sang Maha Pemberi
Sejatinya, rezeki setiap makhluk telah dituliskan jauh sebelum kita dilahirkan. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya ruh kudus (Jibril) membisikkan ke dalam benakku bahwa jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya..." (HR. Abu Nu’aim).
Artinya, rezeki itu seperti bayangan; ke mana pun kita pergi, ia akan mengikuti. Tidak akan ada satu butir nasi pun yang seharusnya menjadi milik Anda masuk ke mulut orang lain, dan tidak akan ada satu rupiah pun milik tetangga Anda tertukar ke kantong Anda. Keyakinan inilah yang seharusnya menjadi obat paling mujarab untuk menghilangkan rasa iri.
Iri Adalah Penghambat Rezeki
Hasad atau iri bukan hanya merusak pahala, tapi juga merusak fokus bisnis kita. Saat kita sibuk mengintip keberhasilan orang lain dengan rasa tidak suka:
-
Energi Kreatif Terkuras: Alih-alih berinovasi untuk produk sendiri, energi kita habis untuk memikirkan "kenapa dia bisa sukses?".
-
Kehilangan Rasa Syukur: Kita menjadi buta terhadap nikmat-nikmat kecil yang sebenarnya sedang Allah berikan kepada kita hari ini.
-
Menentang Ketentuan Allah: Sejatinya, membenci kesuksesan orang lain sama saja dengan mempertanyakan mengapa Allah memberikan karunia-Nya kepada orang tersebut.
Ganti Iri Menjadi Ghibthah (Motivasi)
Islam memperbolehkan kita memiliki perasaan Ghibthah, yaitu keinginan untuk meraih kesuksesan yang sama seperti orang lain tanpa mengharap nikmat orang tersebut hilang.
Jadikan kesuksesan kompetitor sebagai cermin evaluasi: "Oh, mungkin toko sebelah lebih ramai karena pelayanannya lebih ramah," atau "Mungkin kemasannya lebih rapi." Jadikan itu cambuk untuk memperbaiki kualitas usaha kita sendiri, sembari tetap mendoakan keberkahan bagi mereka.
Refleksi Hati
Mari kita tanamkan dalam pikiran setiap kali membuka tempat usaha: “Hari ini, Allah sudah menyiapkan porsi rezeki untuk saya. Jika tetangga saya laku keras, itu adalah haknya. Rezeki saya tidak akan berkurang sedikit pun karena kesuksesannya.”
Ketenangan dalam berbisnis lahir saat kita mampu berkata: "Alhamdulillah atas nikmat yang Allah berikan kepadaku, dan barakallah (semoga Allah berkahi) atas nikmat yang Allah berikan kepada saudaraku." Dengan hati yang bersih dari iri, pintu-pintu rezeki yang tak terduga justru akan lebih mudah terbuka lebar.
"Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
(HR. Muslim)